Edy Triyono

Welcome

:)

Senin, 12 Agustus 2013

Jaga Mutu, FK Unisma Hanya Terima 80 Mahasiswa

PILIH KUALITAS: Kegiatan mahasiswa FK Unisma di lobby kampus.

MALANG - Meski dijatah oleh Dikti untuk menerima lebih dari 180 mahasiswa baru di fakultas kedokteran (FK), Universitas Islam (Unisma) Malang hanya akan menerima 80 mahasiswa tahun ini. Batasan minimal ini diberlakukan demi menjaga mutu dan kualitas pembelajarannya. ”Yang kami inginkan kualitas FK Unisma ini bisa terjaga, biayanya murah tapi kualitasnya baik,” ungkap Rektor Unisma, Prof Dr Surahmat M.Si kepada Malang Post.
 
Surahmat menuturkan saat ini Unisma sudah mengantongi akreditasi institusi B. Akreditasi institusi ini belum tentu dimiliki oleh perguruan tinggi negeri sekalipun. Karena itulah tugas berat bagi Unisma untuk tetap menjaga kualitas pendidikannya dan memertahankan akreditasi institusi tersebut.
Selain itu ada banyak dosen di FK Unisma yang saat ini sedang menempuh studi di luar negeri. Sehingga kapasitas ideal untuk menerima mahasiswa baru di FK hanya 80 mahasiswa saja.  ”Tidak perlu dipaksa harus 100 orang, karena akan beresiko pada kualitas mutu sehingga memengaruhi akreditasi institusi,” kata dia.
 
Surahmat mengakui semakin banyak menerima mahasiswa, maka akan semakin sulit mutu dijaga. Sebab seorang dosen tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk mengajar saja. Tapi juga memiliki kewajiban untuk meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. ”Tidak mungkin pembelajaran bermutu kalau dosennya hanya sibuk mengajar saja,” tukasnya. Dari sekitar 80 mahasiswa tersebut, diantaranya 18 orang mahasiswa adalah kiriman dari Kementrian Agama (Kemenag) RI. Mereka adalah santri dari pondok pesantren yang telah diseleksi dan berhak mendapatkan beasiswa studi di FK Unisma.
 
Pendaftar di FK Unisma tahun ini mencapai 700 orang. Sementara biaya masuk untuk mahasiswa barunya sebesar Rp 140 juta. Lebih murah dibandingkan FK di PTN yang mematok Rp 200 juta. Hingga saat ini FK Unisma sudah meluluskan tiga kali, dan lulusannya bukan dokter biasa tapi dokter muslim. Karena itulah di akhir program pendidikan, calon dokter di sana harus dibait sebagai dokter muslim. ”Kalau biaya dokter tidak mahal maka harapannya kalau lulus bisa membantu rakyat kecil, supaya rumongso kalau dokter harus mengabdi untuk yang lemah,” pesannya.

Seperti halnya Surahmat, yang sejak menempuh pendidikan tinggi di program S1, S2 dan S3 memeroleh beasiswa. Karena itulah ia merasa terpanggil untuk banyak membantu terutama dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. (MPost)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar